
OKEKABAR.COM – Anda sering mengalami sakit di ulu hati, mual atau nyeri di perut yang disebabkan oleh asam lambung? Segeralah periksa ke dokter. Sebab, naiknya asam lambung yang berlebihan dipicu oleh banyak faktor diantaranya faktor stres, pola makan yang tidak teratur dan kondisi dinding lambung yang mengalami kerusakan.
Namun demikian, keberadaan asam lambung tetap diperlukan oleh tubuh untuk memulai proses pencernaan serta membunuh bakteri patogen yang masuk ke lambung.
Asam lambung naik atau penyakit asam lambung bisa dialami oleh orang dewasa maupun anak-anak. Gejala penyakit pada lambung ini sering diduga sebagai serangan jantung atau penyakit jantung koroner, karena gejalanya yang hampir mirip dengan nyeri dada.
Walaupun tidak mematikan seperti serangan jantung, penyakit asam lambung perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.
Seperti yang dilansir dari hellosehat.com. Asam lambung adalah asam yang terdiri dari kalium klorida, natrium klorida, dan asam klorida. Asam yang diproduksi organ lambung sebanyak 3 – 4 liter per harinya ini berfungsi mencerna makanan dan enzim pencernaan untuk memecah protein.
Asam lambung bersifat korosif sehingga dapat membunuh bakteri dan juga berisiko merusak lapisan pelindung lambung. Untungnya, lambung atau perut manusia dilengkapi lendir yang menutupi dinding perut agar tidak oleh asam klorida.
Normalnya, pH asam lambung berkisar antara 1 – 3. Bila lambung menghasilkan jumlah asam yang terlalu banyak, gangguan lambung pun terjadi. Pasalnya, hal ini dapat menyebabkan aliran balik asam lambung atau asam lambung yang naik ke kerongkongan.
Aliran balik asam ini adalah bagian normal dari pergerakan sistem pencernaan. Itu sebabnya, kondisi yang juga disebut refluks asam lambung ini tidak dapat dikatakan sebagai penyakit, melainkan sebuah gejala.
Meski begitu, refluks asam lambung yang sering terjadi dapat menimbulkan sensasi terbakar pada dada dan tenggorokan (heartburn).
Artinya, otot cincin lambung (sfingter), yaitu katup penahan asam agar tetap di lambung, tidak berfungsi normal. Akibatnya, Anda pun berisiko mengalami penyakit asam lambung atau penyakit GERD.
Seberapa umum kondisi asam lambung naik?
Asam lambung naik bukan sebuah penyakit, melainkan gejala dari penyakit tertentu. Namun, kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, terutama orang yang mengalami gangguan pencernaan yang berkaitan dengan lambung.
Tanda dan gejala asam lambung naik.
Pada saat asam lambung naik menuju ke kerongkongan, Anda mungkin mengalami beberapa gejala yang mirip dengan masalah pencernaan, seperti: perut terasa tidak nyaman terutama saat kosong, mual dan muntah, sensasi terbakar pada dada, perut kembung, nafsu makan menurun, maag, berat badan turun tiba-tiba, serta diare.
Kapan harus periksa ke dokter?
Bila Anda mengalami salah satu atau lebih gejala penyakit asam lambung naik yang telah disebutkan dan terjadi berulang kali, sebaiknya periksakan diri ke dokter.
Dengan begitu, dokter dapat membantu mendiagnosis penyebab kondisi yang dialami dan mencari cara mengatasinya.
Penyebab dan faktor risiko
Apa penyebab asam lambung naik?
Penyebab utama asam lambung naik yaitu produksi hormon gastrin yang berlebihan. Gastrin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel ‘G’ pada lapisan lambung dan usus kecil bagian atas.
Hormon ini berfungsi merangsang lambung untuk mengeluarkan asam lambung.
Produksi gastrin yang berlebihan juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi di bawah ini:
Sindrom Zollinger-Ellison merupakan penyakit langka. Penyakit ini menyebabkan tumor yang muncul di pankreas dan usus kecil Anda, atau biasa disebut sebagai gastrinomas.
Gastrinomas dapat memicu produksi gastrin berlebih dan menyebabkan asam lambung naik.
Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori)
Helicobacter pylori merupakan jenis bakteri yang dapat menyerang lapisan yang melindungi lambung.
Bakteri ini juga dapat merangsang lambung untuk menghasilkan lebih banyak asam pada beberapa orang, tetapi belum diketahui apa penyebab pastinya.
- Penyakit ginjal kronis.
Pasien penyakit ginjal kronis (CKD) lebih mungkin mengalami asam lambung naik. Penyebab pastinya memang belum diketahui. Namun, hal ini mungkin berkaitan dengan ginjal yang tidak berfungsi dengan baik. - Fungsi ginjal yang tidak normal ternyata berpotensi tidak dapat membersihkan hormon gastrin dengan baik. Hal tersebut dapat memicu peningkatan kadar gastrin yang juga bisa menghasilkan lebih banyak asam dari lambung.
- Hipersekresi asam lambung
Salah satu jenis obat untuk menurunkan asam lambung yaitu H2 blocker. Namun, ada kalanya obat ini justru dapat memicu asam lambung naik ke kerongkongan.
Di lain sisi, berhenti dari terapi dengan penghambat pompa proton (PPI) tiba-tiba juga dilaporkan dapat meningkatkan asam lambung. Meski begitu, diperlukan penelitian lebih lanjut terkait kondisi ini.
Apa faktor yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini?
Asam lambung naik dapat terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap kondisi ini, antara lain: tiba-tiba berhenti mengonsumsi obat untuk menurunkan asam lambung, terinfeksi bakteri Helicobacter pylori, atau faktor genetik terutama pada sindrom Zollinger-Ellison.
Diagnosis dan pengobatan
Bagaimana cara mendiagnosis kondisi asam lambung naik?
Salah satu cara mendiagnosis apakah asam lambung Anda naik atau tidak yaitu menjalani pemeriksaan asam lambung.
Tes asam lambung merupakan prosedur yang digunakan untuk mengukur jumlah asam di lambung. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk melihat tingkat keasaman pada lambung.
Prosedur ini dilakukan setelah Anda diminta untuk tidak makan selama beberapa jam, sehingga cairan saja yang tersisa pada perut. Kemudian, cairan akan dikeluarkan melalui selang yang dimasukkan ke dalam lambung melalui kerongkongan.
Selain itu, hormon gastrin juga mungkin akan disuntikkan ke dalam tubuh. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan sel pada perut ketika melepaskan asam. Setelah itu, isi perut akan dikeluarkan dan dianalisis di laboratorium.
Volume normal cairan lambung adalah 20 – 100 mL dengan pH asam 1,5 – 3,5. Bila lebih dari itu, Anda mungkin tengah mengalami penyakit tertentu, seperti GERD atau sindrom Zollinger-Ellison.
Apa saja pilihan obat untuk mengatasi asam lambung naik?
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi asam lambung naik, mulai dari penggunaan obat hingga perubahan gaya hidup.
Berikut ini beberapa obat yang bisa Anda manfaatkan untuk mengobati asam lambung.
Antasida
Antasida merupakan salah satu obat yang banyak digunakan orang untuk menurunkan asam lambung.
Obat-obatan yang dijual bebas di apotek ini biasanya mengandung simetikon, yaitu senyawa yang membantu mengeluarkan gas berlebih dalam tubuh.
H2 receptor blockers
Selain antasida, obat lainnya yang dipakai untuk mengobati asam lambung naik adalah H2 receptor blockers. Penggunaan obat ini bertujuan untuk menghambat sekresi asam lambung agar jumlahnya tidak banyak.
Ada pun beberapa obat H2 blockers yang dipakai untuk mengatasi refluks asam lambung, meliputi:
cimetidine, ranitidine, famotidine, atau nizatidine.
Proton pump inhibitor (PPI)
Dibandingkan antasida dan H2 blocker, proton pump inhibitor (PPI) jauh lebih kuat mengatasi asam lambung. Jenis proton pump inhibitor yang sering digunakan antara lain:
lansoprazole,
esomeprazole,
rabeprazole, atau
pantoprazole.
Obat penguat sfingter esofagus bagian bawah
Baclofen (Lioresal®) merupakan peregang otot dan obat antispastik yang digunakan untuk memperkuat sfingter esofagus bagian bawah. Namun, efek samping baclofen dapat menyebabkan kelelahan atau mual.
Sejumlah obat asam lambung naik memang mudah dijumpai di apotek dan bisa dibeli tanpa resep dokter. Sementara itu, beberapa di antaranya membutuhkan resep dokter, seperti Baclofen.
Selalu ikuti petunjuk cara pakai obat asam lambung yang tertera pada label produk atau sesuai dengan resep dokter.
Bila kondisi tidak kunjung membaik setelah mengonsumsi obat yang dijual bebas, segera periksakan diri ke dokter spesialis asam lambung.
Pengobatan asam lambung naik di rumah
Selain mendapatkan obat dan perawatan dari dokter, asam lambung naik juga bisa diatasi dengan pengobatan rumahan. Anda pun dapat melakukan beberapa cara untuk memelihara kesehatan lambung.
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan asam lambung di rumah guna mendukung obat-obatan.
Makan lebih teratur
Salah satu pemicu naiknya asam lambung adalah pola makan yang tidak teratur. Oleh karena itu, selalu usahakan untuk memiliki jam makan yang sama setiap hari.
Pola makan saat mengalami asam lambung ini juga berlaku ketika Anda hendak tidur. Anda disarankan untuk tidak makan dua jam sebelum tidur karena bisa memicu asam naik ke tenggorokan saat tidur.
Hindari makanan tertentu
Memperhatikan asupan makanan juga penting bila Anda rentan mengalami penyakit asam lambung. Ada beberapa makanan dan minuman yang dapat memicu asam lambung dan perlu dihindari, yakni: coklat, soda, makanan yang digoreng, alkohol, daging dan susu berlemak tinggi, kafein, buah citrus, bawang bombay, serta tomat.
Perhatikan porsi makan
Cara mengatasi asam lambung lainnya adalah memperhatikan porsi makan. Hal ini dikarenakan makan dalam porsi besar dapat memicu refluks.
Agar tidak kelaparan, Anda bisa makan lebih sering, tetapi dalam porsi yang lebih kecil.
Kunyah makanan dengan benar
Walaupun terlihat sepele, hal ini perlu diperhatikan karena dapat membantu enzim pencernaan mengolah makanan dengan mudah.
Dengan begitu, risiko asam lambung naik atau gejala GERD yang parah pun bisa dihindari.
Berhenti merokok
Bila Anda merokok atau mengosumsi tembakau, sangat disarankan untuk berhenti. Pasalnya, nikotin dari tembakau melemaskan otot sfingter esofagus bagian bawah.
Hal tersebut memungkinkan asam lambung kembali naik ke kerongkongan.
Pilih makanan yang baik untuk asam lambung
Selain menjadwalkan jam makan, Anda juga perlu lebih selektif ketika memilih makanan yang akan dikonsumsi untuk menurunkan asam lambung. Salah pilih makanan justru menyebabkan refluks asam lambung.
Ada pun beberapa makanan yang baik untuk asam lambung, seperti, pisang, oatmeal, sayuran hijau, putih telur, jahe, daging tanpa lemak, dan lidah buaya.
Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter guna memahami solusi yang tepat untuk Anda.
Penulis : Miftahul Rizky Pulungan
Editor : Redaksi